Perang Dagang Bikin AS-China Sama-sama Babak Belur



Perang tidak pernah menguntungkan siapapun. Kalimat ini tergambar jelas pada dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang dilaporkan Reuters pada Sabtu (30/12/2018).

Perang dagang telah menghantam begitu banyak industri. Mulai dari otomotif, teknologi, dan yang terparah adalah pertanian. Demikian penjabaran ekonom pertanian dari Universitas Purdue, Wally Tyner.

Menurut Tyner, ekonomi AS dan China masing-masing kehilangan sekitar US$ 2,9 miliar per tahun. Nominal itu diakibatkan oleh tarif yang diterapkan China kepada produk-produk pertanian AS macam kedelai, jagung, gandum, dan sorgum.



Perdagangan komoditas pertanian yang terganggu telah melukai kedua belah pihak. Pemicunya adalah karena Cina merupakan importir kedelai terbesar dunia. Pada tahun lalu, Negeri Tirai Bambu mengandalkan Negeri Paman Sam untuk impor senilai US$ 12 miliar.

Pascapemberlakuan tarif 25% terhadap kedelai AS pada Juli sebagai balasan atas tarif AS untuk produk-produk China, Negeri Tirai Bambu mengalihkan pembelian kedelai ke Brasil. Hal itu mendorong penjualan kedelai Brasil di atas kedelai AS.

Hal itu merupakan contoh betapa perang dagang telah mengurangi penjualan bagi eksportir AS dan menaikkan biaya bagi importir Cina. "Ini adalah sesuatu yang membutuhkan resolusi," kata Tyner. "Ini adalah kekalahan untuk AS dan China," ujarnya.

Departemen Pertanian AS mencatat ekspor pertanian AS ke China selama 10 bulan pertama pada tahun ini turun 42% dari tahun sebelumnya, menjadi sekitar US$ 8,3 miliar.

Nilai kontrak berjangka kedelai diperdagangkan rata-rata US$ 8,75 per bushel dari Juli hingga Desember 2018. Nilai itu turun dari rata-rata US$ 9,76 selama periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada 28 Desember, nilai kontrak berjangka di bulan terakhir tahun ini rata-rata US$ 8,95 per bushel. Nilai itu pun turun dari US$ 9,61 pada keseluruhan Desember tahun lalu.

Untuk mengompensasi petani yang menderita, Pemerintah AS telah mengalokasikan sekitar US$ 11 miliar untuk pembayaran langsung dan membeli barang pertanian untuk program makanan pemerintah. Langkah itu diambil setelah berkonsultasi dengan para ekonom, termasuk Tyner.


Di North Dakota, para petani yang mengekspor komoditas ke Cina melalui pelabuhan di Pacific Northwest, petani kedelai menghadapi kerugian setidaknya US$ 280 juta. Hal itu juga karena tarif yang ditetapkan China. Demikian penuturan Mark Watne, presiden North Dakota Farmers Union.

Tarif yang dikenakan Negeri Tirai Bambu meningkatkan margin sehingga menghancurkan kedelai Negeri Paman Sam. Seperti Archer Daniels Midland Co yang meninggalkan banyak pasokan kedelai murah di pasar domestik.

Di sisi lain, pabrik-pabrik pengolah kedelai Cina membeli kedelai lebih dulu sebelum pemberlakuan tarif. Hal itu menyebabkan kelebihan pasokan yang mengurangi margin pemrosesan Cina.

Hal itu telah menyebabkan pabrik-pabrik pada musim panas ini menghasilkan pengurangan terbesar dalam beberapa tahun untuk produksi soymeal yang digunakan untuk memberi makan ternak.

Cina memulai kembali pembelian kedelai AS pada awal Desember setelah gencatan senjata perang dagang yang disetujui oleh para pemimpin dari kedua negara selama KTT G20 di Argentina, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, China tetap mempertahankan tarif 25% untuk kedelai dari AS yang secara efektif membatasi pembelian komersial Cina. "Dengan adanya tarif, kedelai tidak bisa masuk ke sistem komersial," kata seorang manajer di produsen pakan utama China, berbicara dengan anonimitas.

Baca Sumbernya

==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==
==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==